Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Plesetan nya dunia lain
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Hmm bagaimana ya klo bayi ini jadi anak lo, masih kecil udah ngeres pikirannnya
abWritePlayer(39749, 468, 400, “http://vid.adbrite.com/video/abplayer?”);
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Berlebihan kah, penyambutan pemerintah kita terhadap kedatangan mahadewa (Bulshit) yang akan datang ke negeri kita ini yang kecil…. sampai sampai mengorbankan aktivitas rakyat kita yang hanya ingin mencari sesuap nasi…., berkimunikasi……
Berikut dikirimkan hasil Rapat DLLAJ dan bagian2 terkait pada hari Rabu,
08 Nopember 2006 :
(lagi…)
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
TREND lagu yang sukses secara jualan dan catcy di kuping penikmat musik Indonesia, resepnya sederhana: progresi kord 3 kunci, lirik gampang dihapal dan tempo lambat. Sekarang ada tambahan: sering dinyanyikan pengamen dan anak-anak. Dengan resep sederhana itu, Samsons, Ungu, radja, Peterpan atau Seuriues, menangguk sukses yang tidak sedikit.
Meski menolak dianalogikan dengan “resep” itu, NAFF Band ternyata “mempraktekkan” ramuan mujarab di musik Indonesia itu. Pertapaannya selama 3 tahun lebih, ternyata tak menghasilkan progres yang luarbiasa. NAFF ternyata “malu-malu kucing” untuk bermetamorfosis menjadi pembawa perubahan. Hasilnya, NAFF cenderung membawa dirinya para alur trend yang ada. Tidak percaya?
Perhatikan single pertamaKau Masih Kekasihku di album ke-4 ISYARAT HATI. Meski konon ada benang merah dengan sukses Terendap Laraku beberapa tahun silam, tapi mengapa secara musikalitasnya sepertinya hanya “mengulang” saja. Tempo, lirik, dan warna vokal Ady, masih saja terasa mendayu-dayu. Jualan? Tampaknya pilihan itu yang kemudian diambil.
Kelebihan band asal Bandung ini adalah pada lirik. Ady, yang didapuk sebagai vokalis sekaligus penulis 95 % lirik di album ini, cukup punya intensitas sastawi yang lumayan. Bahasanya tidak “kampungan” meski nyaris semuanya bicara cinta.
Album ini didominasi tempo lambat yang tidak terlalu nendang sebenarnya. Sayangnya, pilihan single keduanya, Akhirnya Ku Menemukanmu punya tempo yang sejenis dengan single pertama. Artinya, dua single yang diluncurkan, punya “keseragaman”. Miskin kreativitaskah?
Isyarat Hati yang jadi judul albumnya, setali tiga uang dengan dua single awalnya. Tidak jelek sih, tapi terlalu biasa dengan kapabitas sekelas NAFF.
Sebagai band yang vakum cukup lama, NAFF rupanya belajar lebih banya soal trend dan kuping Indonesia. Tidak bisa disalahkan, karena musik adalah industri yang sama dengan nafkah. Tapi kalau ngomong soal progresivitas musikal, NAFF Terlalu lambat untuk 3 tahun menghilang.
Di Ambil Dari http://www.tembang.com/resensi/detail.asp?id=280
Diarsipkan di bawah: Uncategorized


