Belajar Untuk Tidak Menjadi Bodoh


Masuk Thamrin Bayar
Januari 11, 2007, 5:33 am
Diarsipkan di bawah: Bikers

Kontroversi larangan sepeda motor masuk ke
jalan-jalan protokol tak menyurutkan niat Pemprov DKI. Kemungkinan
besar aturan itu akan diberlakukan akhir tahun ini. Pengaturan
pembatasan pergerakan sepeda motor itu, juga akan diikuti penerapan
jalur komersial bagi kendaraan roda empat atau lebih melalui
penarikan pajak kemacetan (electronic road pricing/ERP)

“Saat ini masih dikaji. Detail engineering design-nya diperkirakan
selesai pertengahan tahun. Setelah itu baru kita lakukan persiapan
implementasinya. Kita harapkan, ERP bisa diterapkan tahun ini juga.
Mungkin hampir bersamaan dengan penerapan pembatasan gerak motor
itu,” ujar Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Udar Pristono
kepada Warta Kota, Senin (8/1).

Penerapan dua aturan itu, kata Pristono, dilakukan dengan
pertimbangan sejumlah faktor. Terutama terkait perubahan pola
transportasi masyarakat Ibu Kota selepas beroperasinya tujuh koridor
busway yang secara resmi akan diluncurkan Gubernur Sutiyoso pada 27
Januari 2007. “Memang idealnya itu diberlakukan setelah angkutan
masal tersedia. Tapi, saya kira setelah tujuh koridor beroperasi
penuh, pola perjalanan orang akan berubah. Saat itu ada lebih banyak
titik transfer yang memudahkan penumpang busway bepergian dengan
tarif yang murah,” katanya.

Dishub menganggap penting pemberlakuan pembatasan gerak kendaraan
pribadi di kawasan-kawasan tertentu. Dan itu tak hanya berlaku bagi
motor, melainkan juga bagi mobil. “Itu bagian dari strategi
penanganan lalu lintas, selain menyediakan angkutan masal, menambah
ruas jalan, kita juga perlu membatasi penggunaan kendaraan pribadi,”
ujar Pristono.

Saat ini, dishub sedang mengkaji lokasi yang akan dijadikan sasaran
penerapan aturan tersebut. Jalur komersial ERP kemungkinan besar
akan diterapkan pada jalan-jalan yang sekarang terkena three in
one. “Pilihannya antara sistem ERP Singapura, atau congestion
charging di London, Inggris,” ujar Pristono.

Sistem ERP di Singapura mampu menekan kepadatan lalu lintas hingga
73 persen. Pajak kemacetan juga diterapkan di Jerman, AS, Kanada,
Meksiko, Perancis, Hongkong, dan Taiwan. Jalan yang terkena program
3 in 1 adalah Jalan Jenderal Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka
Barat, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Gatot Subroto, dna Pintu Pesar
Selatan.

Penampungan motor
Sementara itu, bagi pengguna motor akan disediakan lokasi park and
ride untuk menempatkan kendaraannya sebelum berpindah ke angkutan
umum. Lokasi yang mungkin akan dijadikan penampungan motor itu
antara lain Terminal Kampung Rambutan dan Taman Margasatwa
Ragunan. “Dari sana kan nanti sudah ada busway untuk ke tengah kota.
Jadi tak ada alasan lagi sulit angkutan umum,” ujar Pristono.

Menurut Pristono, manajemen lalu lintas itu terdapat dalam konsep
Pola Transportasi Makro (PTM) yang telah ditetapkan pemprov hingga
2015. Dalam PTM itu, penyediaan angkutan massal, penambahan ruas
jalan, dan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi harus berjalan
seiring.

Angkutan massal yang dimaksud itu antara lain berupa kereta bawah
tanah (subway), kereta layang berrel tunggal (monorel), 15 koridor
busway, dan angkutan air (water way). Subway akan menghubungkan
utara dan selatan Jakarta, monorel menjadi akses bagi mobilitas
barat dan timur, dan busway menjadi moda ketiga menghubungkan titik
ke titik di dalam kota. (dra)

POLA TRANSPORTASI MAKRO
Subway : Tahap I Lebak Bulus-Dukuh Atas (2010),
Tahap II Dukuh Atas-Kota
Monorel : Jalur Hijau (14,275 km) Kuningan-Sudirman (2007)
Jalur Biru (9,725 km) Kampung Melayu-Tanah
Abang (2008)
Busway : 15 koridor (2010)
Transportasi sungai (water way): Tahap awal Manggarai-Karet
beroperasi 2007

PEMBAYARAN ERP
* Sistem ERP antara lain akan menggunakan voucher yang berupa smart
card. Nilai nominal di voucher itu akan berkurang secara otomatis
bila melintas di kawasan ERP.
* Pada jam-jam tertentu, tarif ERP akan lebih mahal.


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Met kenal om. Jakarta emang udah kyk pasar kendaraan bermotor/apalagi motor2nya. Ga tau ya sistem baru ini bisa ngatasin ga kesemrawutan….

Komentar oleh ilham

bener,,, bagusan aja kalo trotoar dan kendaraan umum makin banyak… ya memanusiakan manusia gitu

Komentar oleh Lawrance

Gw paling benci sama yang namanya sepeda motor. Speda motornya sih gak benci, tapi ama pemilik nya. Mental kere aja belagu kalo di jalanan, gimana kalo udah kaya beneran? Banyak banget di jalanan speda motor yang gak pake kaca spion (terutama Vespa), gak ada lampu sen, dan motor bodong (gak ada pelat nomor alias motor curian). Kalo nyalip mobil ato roda empat keatas gak kira kira, pede banget, yakin bener kalo roda empat ke atas gak bakal nyerempet nabrak mereka. Mreka lupa mreka bisa ada di jalanan karena belas kasian pemakai roda empat ke atas. Kalo nyerempet kaca spion mobil, bisanya cuma kabur aja, ato belagak bego pura2x gak tahu. Speda motor mental preman tak jarang suka memakai kaki nya untuk menghajar kendaraan lain yang gak di sukainya. Speda motor juga suka nyundul bemper mobil blakang walau lampu rem blakang udah nyala skalipun, bikin lecet body mobil blakang. Motor juga suka nyalip dari kanan mobil, walau aturan motor jalan di kiri udah di berlakukan skalipun, udah gitu suka pasang tampank blagu gitu kayak gak suka ama mobil gitu. Tak jarang galakan speda motor ketimbang mobil. Rasis banget ama roda empat. Salah sndiri jadi orang kere cuma mampu beli speda motor, jangan salahin mobil donk. Gw dukung gerakan batasi populasi speda motor oleh Polri. Emang udah waktunya, berarti yang ngerasa sebel ama speda motor gak cuma gw doank. Kalo bisa, speda motor gak usah masuk jakarta deh. Halo polisi, kalian butuh duit untuk sahkan perpu itu? Bilang aja ke saya, nanti saya bantu, yang penting speda motor mampus enyah dari jakarta. Jangan coba2x ketemu gw di jalanan sepi deh, apalagi bikin ulah, gw tabrak lu ampe mati, trus gw mundurin lagi mobilnya dan lindes pale lu berkali kali, baru ngacir. a

Komentar oleh antimotor

Saya mencoba untuk berkontribusi dalam diskusi ttg kontroversi pelarangan motor masuk jalan utama di Jakarta dan dapat dibaca di blog saya:
http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com/

Komentar oleh Deden Rukmana

UnTUK KOMENTAR NO.3,,HE JANGAN ASAL NJEPLAK LO YA,,KLO NGOMONG DIPIKIR DULU..LO SADAR GAK SIH DI NEGARA INI KAN BANYK ORANG-ORANG DIBAWAH GRS KEMISKINAN,,PUNYA SPD MOTOR AJ DAH UNTUNG,,JANGN MENTANG2 KAMU ORANG TOP KELAS ATAS YANG DENGAN MUDAH BELI RODA EMPAT,LO SEENAKNYA AJ MENGHINA SPDA MOTOR,,DASAR ORANG SOK,,PADAHAL HATI LO LEBIH KERE DARIPADA YANG PUNYA SPDA MOTOR,,LO TAU GAK SEH JAKARTA MACET TU YA GARA2 BANYAK RODA EMPATNYA,,DAH BODINYA BESAR,,MAKAN JALAN PULA,,MENDING JALANNYA DI PAKE MOTOR,,SATU MOBIL BISA DIPAKE 5 MOTOR ATO LEBIH,,DASAR OTAK2 UDANG,,NGAKUNYA ORANG TOP TAPI OTAKNYA GAK LEBIH BESAR DRPAD ORANG KECIL YANG NGEMIS DI TENGAH JALAN…RAIMU KOYOK BORJU PADAHAL LU KERE…

Komentar oleh jancok

Of course, but what do you think about that?,

Komentar oleh Bakerklok

Yes, you can see more about this here:,

Komentar oleh Onkizeob




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>